Warga Kelurahan Mintaragen di Kota Tegal kembali harus mengelus dada saat air mulai memasuki rumah mereka sejak dini hari. Fenomena banjir tahunan ini seolah menjadi tamu tak diundang yang selalu datang setiap kali musim penghujan mencapai puncaknya. Bahkan, genangan air setinggi lutut orang dewasa kini melumpuhkan aktivitas ekonomi warga yang mayoritas bekerja sebagai pedagang dan nelayan.
Masyarakat setempat merasa lelah dengan kondisi yang terus berulang tanpa ada solusi permanen dari pihak terkait. Oleh karena itu, warga kini mulai terbiasa meletakkan barang-barang berharga di atas dipan kayu yang sudah mereka tinggikan sejak jauh hari. Kelurahan Mintaragen memang berada di wilayah rendah yang sangat rentan terhadap luapan air laut atau banjir rob.
Rutinitas Melelahkan di Tengah Genangan
Ibu rumah tangga di Mintaragen harus bekerja ekstra keras untuk membersihkan sisa lumpur yang masuk ke dalam ruang tamu. Selain itu, mereka juga harus memastikan anak-anak tetap sehat meskipun
Baca juga:Pemkot Tegal Dukung Iklim Investasi yang Kondusif

lingkungan sekitar mulai tercemar air kotor. Sebab, genangan air yang mengendap terlalu lama sering kali memicu berbagai penyakit kulit dan demam tinggi bagi penghuni rumah.
Akibatnya, banyak anak sekolah yang terpaksa meliburkan diri karena akses jalan menuju sekolah tertutup air yang cukup dalam. Namun, semangat warga untuk tetap bertahan di rumah sendiri tidak pernah pudar meskipun ancaman banjir terus menghantui. Selanjutnya, warga berharap pemerintah kota segera mengoptimalkan fungsi pompa air di sekitar pelabuhan guna mempercepat pengeringan genangan.
Harapan pada Normalisasi Saluran Air
Para tokoh masyarakat di Mintaragen terus menyuarakan pentingnya normalisasi saluran drainase yang kini mulai mengalami pendangkalan serius. Bahkan, tumpukan sampah di muara sungai memperburuk keadaan karena menghambat laju air menuju laut lepas. Oleh sebab itu, kesadaran kolektif untuk tidak membuang sampah ke sungai menjadi faktor kunci dalam meminimalisir dampak banjir.
“Kami sudah bosan kebanjiran setiap tahun. Oleh karena itu, kami mohon pemerintah segera memperbaiki tanggul yang jebol,” ujar salah satu warga yang sedang menguras air dari dalam rumahnya.
Selanjutnya, bantuan logistik berupa makanan siap saji dan obat-obatan sangat warga butuhkan saat akses menuju pasar tertutup banjir. Dengan demikian, beban masyarakat sedikit berkurang di tengah situasi sulit yang memaksa mereka untuk tetap tinggal di dalam rumah yang lembap.
Solidaritas Antarwarga yang Kuat
Meskipun menghadapi kesulitan besar, solidaritas antarwarga di Mintaragen justru terlihat semakin kuat saat bencana melanda. Sebab, warga secara sukarela saling membantu mengevakuasi lansia dan balita menuju tempat yang lebih aman atau lantai dua rumah tetangga. Oleh karena itu, kebersamaan ini menjadi kekuatan utama yang membuat mereka mampu menghadapi cobaan tahunan ini dengan sabar.
Berikut adalah poin utama penderitaan warga Mintaragen:
-
Kerugian Materiil: Perabotan rumah tangga dan alat elektronik sering kali rusak akibat terendam air asin.
-
Lumpuhnya Ekonomi: Warung-warung kecil terpaksa tutup karena pelanggan tidak bisa menjangkau lokasi usaha.
-
Ancaman Kesehatan: Kurangnya akses air bersih selama banjir meningkatkan risiko infeksi saluran pencernaan.
Meskipun demikian, warga tetap menaruh harapan besar pada janji pembangunan tanggul raksasa yang dicanangkan oleh pemerintah pusat. Sebagai penutup, kisah warga Mintaragen adalah potret keteguhan hati manusia dalam menghadapi tantangan alam yang semakin tidak menentu. Dengan demikian, perhatian serius dari semua pemangku kepentingan sangat kita perlukan agar banjir tahunan ini segera menjadi sejarah masa lalu.





